Rasulullah terluka, giginya patah, puluhan sahabat menjemput
syahadah. medan uhud bersejarah yang menoreh luka, tapi juga menancapkan
begitu banya hikmah.
sehari setelah kekalahan di Uhud,
Rasulullah begitu gelisah. bukan, ia bukan sedang meratapi kekalahan
atau kematian sahabat-sahabat unggulan. ia hanya sedang berfikir keras,
bagaimana cara agar setelah kekalahan ini, semangat kaum muslim tetap
terjaga, izzah da'wah tidak terinjak-injak. ia pun akhirnya
memerintahkan kepada beberapa sahabat utk mengejar pasukan kafir quraisy
ke Hamra Al As'ad. Bayangkan, hanya selang sehari setelah peperangan
meletihkan yang berujung kekalahan. tidakkah mereka letih? tidakkah
mereka masih berduka? ya benar, tapi andai kata mereka saat itu mereka
tidak mengikuti perintah Rasulullah, entah apa yg akan terjadi. karena
setibanya mereka di hamra al as'ad, mereka mendapati pasukan kafir
quraisy tengah menyusun rencana utk kembali menyerang Madinah. demi
mendengar kedatangan Rasulullah bersama beberapa sahabat, Allah
memunculkan rasa takut dalam dada mereka dan serta merta kembali ke
Makkah.
Ikhwah, kalah memang menyakitkan. tapi kita
tidak punya waktu utk berlama-lama meratapi nasib. lagipula, anggap saja
ini kesempatan kedua bagi kita yang mungkin belum berkontribusi.
sebagaimana seorang pemuda yang tidak ikut di perang uhud karena tidak
mendapat izin dari orang tuanya, tapi ia akhirnya mendapat kesempatan
utk berjihad dengan menyertai pasukan yang berangkat ke medan hamra
al-as'ad.
Wallahu'alam bis Showab
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati,
padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu
orang-orang yang beriman,” (QS Ali Imran:139).
Rabu, 11 Juli 2012
Selasa, 03 April 2012
We're SPECIAL :)
I feel privileged to be able to live all this, like these moments the most, great game ahead, feel as if it’s the first time – Pep Guardiola (press conference on UCL QF second leg against AC Milan)Saya merasa sangat istimewa bisa menjalani semua ini, yg paling special adalah moment seperti ini, dengan sebuah pertandingan besar di depan mata, aku selalu merasa jika ini adalah yg pertama (Pep Guardiola, konferensi pers jelang laga Barcelona – Ac Milan)
Ingatkah ketika kita pertama kali mengenal dunia tarbiyah? Pertama kali menjalankan tugas da’wah? Pertama kali ditunjuk sebagai korlap aksi? Pertama kali syuro’? Pertama kali menjadi menjadi murobbi? Pertama kali hadir diforum lingkaran pekanan? Pertama kali dipanggil dengan sebutan ‘Ukhti’ ? Ingatkah apa yg kita rasakan saat itu? SO MUCH SPECIAL! Aku ingat betul, ramadhan pertama setelah aku tarbiyah, saking semangatnya aku bahkan sholat sunnah 2 raka’at ba’da sholat ashar (hahaha..namanya jg belum tau) jadilah aku menjadi perhatian akhwat-akhwat yg saat itu memang sedang ramai berkumpul di Masjid Al Fatihah. Aku sering mengingat momen konyol itu saat sedang enggan utk sholat sunnah.
Dalam perjalanan hidup, kita kerap kali menemukan rasa jenuh, malas, enggan, ingin berhenti sejenak. Pun dalam dunia tarbiyah, dalam perjalanan da’wah. Dan itu manusiawi. Karena Iman memang senantiasa selalu naik dan turun, jiwa manusia sudah diberi kecendrungan untuk berbuat fujur maupun taqwa. Dan mengenang masa-masa awal tarbiyah, perjuangan kita utk berjilbab, pengorbanan kita meninggalkan kebiasaan masa jahiliyah yg sangat kita sukai. adalah salah satu cara untuk mengembalikan semangat itu. Menghadirkan cinta pada ketika awal-awal masa tarbiyah..menghadirkan semangat menggebu itu..dan kita akan selalu merasa begitu special, bahagia, sebab Allah memilih kita utk berada dalam barisan ini, Allah memilih kita utk menerima hidayahNya..hadirkan kembali rasa itu..
*masa’ kalah sama Pep Guardiola..huehehe^^
Rabu, 14 Maret 2012
Facebook Soulmate XD
Jidatku berkerut mendapati cerita seorang teman
“akhirnya, aku menemukan seseorang yang benar-benar bisa mengerti aku. He’s such a soulmate”
“siapa memang?” tanyaku malas
“ada deh, temen pesbuk” jawabnya meniru adegan salah satu iklan provider sambil senyam senyum geje. And I was like “WHAT??? TMN PESBUK???” tuing..tuing..
Ceritanya mengalir tanpa kutanya, katanya pria itu selalu ada tiap kali dia butuhkan (Halooooo trus Alloh di anggap apa?X_X) selalu mendengarkan cerita-ceritanya, memberi nasehat, bertukar kisah tentang aktivitas mereka sehari-hari, ngobrolin film, musik, sampai soal agama. makanya dia bilang kalau mereka really well-connected, semacam ada chemistry. she said that maybe they are soulmate. What a joke!
Percayalah, dia bahkan tidak peduli sama sekali padamu teman, memang kalian berdua sering chatting via FB atau YM atau apapun, tidakkah kamu berfikir dia melakukan hal yg sama dengan wanita lain? Kamu merasa diperhatikan? Plis deh, jangan GR gitu ah..dia memang perhatian sama semua orang, merasa dia selalu ada saat dibutuhkan? Haha..bisa jadi waktu kalian chatting, tuh laptop ditinggal ke dapur, toilet, warung, nonton TV.. you keep typing and typing, then he answered “Yes” , “uh-huh”, “I got it” , “okay” dia bahkan tidak membaca apa yang kamu tulis dengan susah payah dan kamu merasa dia sangat pengertian. C’mon..WAKE UP!!
Asal kamu tau, aku pernah punya seorang teman (bukan teman pesbuk lho ya) orang bilang kami benar-benar seperti saudara. Bukan karena kami terlihat akrab, tapi bagaimana kami bekerja sama. Somehow I think he even know me better than I know myself. And vice versa. Waktu orang-orang panik karena aku meledak (aku memang hobi sekali meledak kalau ada hal-hal prinsipil yang tidak sesuai dengan aturan^^v) dia dengan santai bilang “gak papa, ntar kalo sdh tenang baru kita ajak bicara. Kalo di omongin sekarang namanya cari mati”, aku tau masalah apa yang akan membuatnya marah, dan bisa menebak kalau dia sedang ‘galau’, bukan karena hasil interaksi yang intens, ya feeling aja. Do I think that he is my soulmate just because we can understand each other perfectly without even saying anything? NOPE! NEVER! He’s only my ordinary brother in Islam, just like the others. Begitupun sebaliknya. Kalaupun aku punya teman sejiwa, maka itu pasti Bubble dan Blossom. Dua orang akhwat yang selalu membuatku merasa sangat ‘lengkap’. mendukungku sekuat tenaga saat mereka tau aku berada dipihak yang benar, memarahiku habis-habisan saat aku melakukan kesalahan, ketawa bareng, nangis bareng, begadang bareng. atau adik-adik tingkat yang sering tiba-tiba muncul didepan pintu kamar dengan sekaleng susu atau semangkuk bubur ayam waktu aku sedang sakit. They’re much more important in my life than any brothers *sorry*
It’s so silly saying that someone is your soulmate just because you talk a lot in facebook, Just because he answered you with “yes, uh-huh, okay, I got it”.. KEEP IN REAL! There’s no such thing in this world, especially in Islam. Kembalilah ke dunia nyata teman, perbanyak usaha memperbaiki diri, then your Real Soulmate will come in the right time :)
Thanks to Syaikh Abu Mussab for the great lecture! Inspired me a lot!
“akhirnya, aku menemukan seseorang yang benar-benar bisa mengerti aku. He’s such a soulmate”
“siapa memang?” tanyaku malas
“ada deh, temen pesbuk” jawabnya meniru adegan salah satu iklan provider sambil senyam senyum geje. And I was like “WHAT??? TMN PESBUK???” tuing..tuing..
Ceritanya mengalir tanpa kutanya, katanya pria itu selalu ada tiap kali dia butuhkan (Halooooo trus Alloh di anggap apa?X_X) selalu mendengarkan cerita-ceritanya, memberi nasehat, bertukar kisah tentang aktivitas mereka sehari-hari, ngobrolin film, musik, sampai soal agama. makanya dia bilang kalau mereka really well-connected, semacam ada chemistry. she said that maybe they are soulmate. What a joke!
Percayalah, dia bahkan tidak peduli sama sekali padamu teman, memang kalian berdua sering chatting via FB atau YM atau apapun, tidakkah kamu berfikir dia melakukan hal yg sama dengan wanita lain? Kamu merasa diperhatikan? Plis deh, jangan GR gitu ah..dia memang perhatian sama semua orang, merasa dia selalu ada saat dibutuhkan? Haha..bisa jadi waktu kalian chatting, tuh laptop ditinggal ke dapur, toilet, warung, nonton TV.. you keep typing and typing, then he answered “Yes” , “uh-huh”, “I got it” , “okay” dia bahkan tidak membaca apa yang kamu tulis dengan susah payah dan kamu merasa dia sangat pengertian. C’mon..WAKE UP!!
Asal kamu tau, aku pernah punya seorang teman (bukan teman pesbuk lho ya) orang bilang kami benar-benar seperti saudara. Bukan karena kami terlihat akrab, tapi bagaimana kami bekerja sama. Somehow I think he even know me better than I know myself. And vice versa. Waktu orang-orang panik karena aku meledak (aku memang hobi sekali meledak kalau ada hal-hal prinsipil yang tidak sesuai dengan aturan^^v) dia dengan santai bilang “gak papa, ntar kalo sdh tenang baru kita ajak bicara. Kalo di omongin sekarang namanya cari mati”, aku tau masalah apa yang akan membuatnya marah, dan bisa menebak kalau dia sedang ‘galau’, bukan karena hasil interaksi yang intens, ya feeling aja. Do I think that he is my soulmate just because we can understand each other perfectly without even saying anything? NOPE! NEVER! He’s only my ordinary brother in Islam, just like the others. Begitupun sebaliknya. Kalaupun aku punya teman sejiwa, maka itu pasti Bubble dan Blossom. Dua orang akhwat yang selalu membuatku merasa sangat ‘lengkap’. mendukungku sekuat tenaga saat mereka tau aku berada dipihak yang benar, memarahiku habis-habisan saat aku melakukan kesalahan, ketawa bareng, nangis bareng, begadang bareng. atau adik-adik tingkat yang sering tiba-tiba muncul didepan pintu kamar dengan sekaleng susu atau semangkuk bubur ayam waktu aku sedang sakit. They’re much more important in my life than any brothers *sorry*
It’s so silly saying that someone is your soulmate just because you talk a lot in facebook, Just because he answered you with “yes, uh-huh, okay, I got it”.. KEEP IN REAL! There’s no such thing in this world, especially in Islam. Kembalilah ke dunia nyata teman, perbanyak usaha memperbaiki diri, then your Real Soulmate will come in the right time :)
Thanks to Syaikh Abu Mussab for the great lecture! Inspired me a lot!
Akhir Hidup Sang Jendral
Terbaring sakit di atas tempat tidur, Hampir-hampir menangis, lelaki gagah itu bertanya pada sahabatnya
“Sahabatku, tidakkah kamu melihat bagian tubuh dan wajahku sudah penuh dengan luka? Tidakkah kamu melihat tangan dan kaki ku penuh dengan bekas sayatan pedang dan tusukan anak panah? Tidakkah kau melihat Aku telah mencari Syahid di ratusan pertempuran? mengapa aku tidak bisa mati di medan perang?”
“Mengertilah wahai Khalid, saat Rasulullah memberikan gelar PEDANG ALLAH padamu, itu merupakan penegasan bahwa kau tidak akan pernah terkalahkan di pertempuran manapun. Seumur hidupmu. Karena jika kau terbunuh ditangan seorang kafir, itu berarti Pedang Allah dihancurkan oleh MusuhNya, sesuatu yang tidak akan pernah terjadi”
in Memoriam, The Best Commander Ever, Sang Panglima Syurga, Khalid Bin Walid
“Sahabatku, tidakkah kamu melihat bagian tubuh dan wajahku sudah penuh dengan luka? Tidakkah kamu melihat tangan dan kaki ku penuh dengan bekas sayatan pedang dan tusukan anak panah? Tidakkah kau melihat Aku telah mencari Syahid di ratusan pertempuran? mengapa aku tidak bisa mati di medan perang?”
“Mengertilah wahai Khalid, saat Rasulullah memberikan gelar PEDANG ALLAH padamu, itu merupakan penegasan bahwa kau tidak akan pernah terkalahkan di pertempuran manapun. Seumur hidupmu. Karena jika kau terbunuh ditangan seorang kafir, itu berarti Pedang Allah dihancurkan oleh MusuhNya, sesuatu yang tidak akan pernah terjadi”
in Memoriam, The Best Commander Ever, Sang Panglima Syurga, Khalid Bin Walid
Selasa, 13 Maret 2012
Du'a For Gaza
suffice is Allah and He is the best disposers of affairs
Oh The One of Majesty and Nobility
Rescue the Moslems in Gaza
Oh Allaah Rescue the Moslems in Gaza
Oh Allah be their backer and ally
Oh Allah..noble are the ones you acquaintance
Majestic in your homage
and Holy are Your Names
Oh Allah..Your Orders are never refused
nor Your Soldiers are ever defeated
Praise to You in gratefulness
Oh Allah, take care All Moslems of the oppressing Yahud
Oh Allah, Sender of the Holy Book
Mover of the clouds
Defeaters of the armies
Defeat them..shake them..
oh Allah..show us in them the Wonders of Your Might
killers of Messengers and Prophets
oppressors are the armless innocent
Oh Allah liberate Moslems in Gaza
Oh The One of Majesty and Nobility
Oh Allah, release them from their siege
and heal their sick and relieve their anguish
Oh Allah, replace their fear with security
Oh The One of Majesty and Nobility
Oh Allah, strengthen Islam and All Moslems
and disgrace shirk and mushreekin
and smash the enemies of this faith
and protect the unity of Islam, unite all Muslims
oh..Lord of the world
Oh Allah, rescue the weak among the Moslems everywhere
Oh Allah, better the conditions of Moslems in Palestine, Iraq, everywhere
Oh Allah, spread benevolence between their hearts
and guide them to the roads of peace
guide the from the darkness to the light
Oh The One of Majesty, Generosity, and Nobility
Allahumma Amin...
taken from Syaikh Mishari Rasyid
Oh The One of Majesty and Nobility
Rescue the Moslems in Gaza
Oh Allaah Rescue the Moslems in Gaza
Oh Allah be their backer and ally
Oh Allah..noble are the ones you acquaintance
Majestic in your homage
and Holy are Your Names
Oh Allah..Your Orders are never refused
nor Your Soldiers are ever defeated
Praise to You in gratefulness
Oh Allah, take care All Moslems of the oppressing Yahud
Oh Allah, Sender of the Holy Book
Mover of the clouds
Defeaters of the armies
Defeat them..shake them..
oh Allah..show us in them the Wonders of Your Might
killers of Messengers and Prophets
oppressors are the armless innocent
Oh Allah liberate Moslems in Gaza
Oh The One of Majesty and Nobility
Oh Allah, release them from their siege
and heal their sick and relieve their anguish
Oh Allah, replace their fear with security
Oh The One of Majesty and Nobility
Oh Allah, strengthen Islam and All Moslems
and disgrace shirk and mushreekin
and smash the enemies of this faith
and protect the unity of Islam, unite all Muslims
oh..Lord of the world
Oh Allah, rescue the weak among the Moslems everywhere
Oh Allah, better the conditions of Moslems in Palestine, Iraq, everywhere
Oh Allah, spread benevolence between their hearts
and guide them to the roads of peace
guide the from the darkness to the light
Oh The One of Majesty, Generosity, and Nobility
Allahumma Amin...
taken from Syaikh Mishari Rasyid
Selasa, 06 Maret 2012
SMANSA KLAN
semalam, waktu sedang dirental pengetikan, ada yg menyerahkan sebuah sertifikat speech contest tingkat nasional utk di scan. kuperhatikan dengan seksama dan seketika bertanya "anak smansa ya dek?" yg ditanya langsung bengong "koq tau Mbak?"
hehehe... sambil senyum2 kubilang "ini sertifikat, biasanya cm anak smansa yg punya. soale jarang2 ada siswa SMA lain yg ikut"
"lah terus Mbak tau darimana?" tanya nya lagi
akhwat yg duduk disebelahku langsung menjawab "Mbak nya ini alumni SMansa"
"oooooooo..." anak tadi cuma manggut-manggut, wajahnya masih terdapat gurat2 keheranan. segitu ma'rifatnya ya sama mantan sekolah. mungkin begitu pikirnya.
7 tahun setelah lulus dr gedung tua dijalan Bhayangkara itu, aku masih merasakan sense of belonging yg luar biasa. waktu final DBL thn lalu, aku nyaris datang sendirian ke stadion dengan kostum merah kalau gak ingat umur dan kalau gak ingat disana bakal campur aduk dengan kaum pria..^^v
aku hampir selalu bisa mengenali siswa-siswa smansa saat sedang berada didalam angkot, warung atau mall. i dont know why..dulu, waktu masih mengajar di IDP, aku pernah memegang kelas level SMA dan saat pertemuan perdana, secara spontan aku bertanya pada mereka "kalian anak Smansa ya??" dan benar saja. cm 1 orang yg ada dalam ruangan itu yang bukan siswa smansa, dia masih kelas 2 SMP dan berkata "tp nanti saya bakal masuk smansa koq, Miss" :D
bukan tanpa alasan aku begitu mencintai almamaterku itu, masuk kesana sebagai anak lulusan SMP kampung, aku merasa begitu diterima, tidak dibeda2kan dengan mereka yg statusnya anak pejabat, pengusaha, direktur , dsb. masih kuingat betul kata tetanggaku dikampung sebelum aku memutuskan utk mendaftar disekolah ini "eh, disana itu isinya cm anak2 orang kaya. ntar kamu gak punya teman lho" pada akhirnya aku tau kalau yang dikatakannya itu SALAH, ya..sekolah ini didominasi oleh anak2 borjuis. tidak punya teman?? salah besar, aku punya teman2 dan senior2 super keren yang tdk pernah membeda2kan manusia hanya dr status sosialnya (semoga ini masih berlaku sampai sekarang)
sekolah ini mengajarkan totalitas. kalau mau setengah2 mending ke tempat lain aja deh. percaya gak percaya, aku pernah dapat nilai 4 di raport. pelajaran kimia caturwulan pertama kelas 1. mungkin krn masih culture-shock. anak2 disekolah ini nafsu belajarnya mengerikan, gaya belajarku semasa SMP jelas tidak berguna. menginjak kelas 2, aku sadar 1 hal lagi. koq bahasa inggrisku jelek bgt ya?? dibanding teman2 sekelas yg rata2 bisa cas cis cus dengan lancar. akhirnya, kursus tambahan jd satu2nya pilihan. walaupun harus berjibaku dgn kelas malam krn sehari penuh sdh dihabiskan disekolah. sekolah dr jam 7 sampai jam 2, plus les trio matematika-fisika-kimia, eskul, dsb.sadar kalau otakku pas2an..jd gak punya waktu utk main2 ^^v kalau nilainya jelek ya tamat lah riwayat sampai disitu, tiap tahun ada aja siswa smansa yg pindah kesekolah lain krn tinggal kelas. makanya begitu menginjak dunia kampus, masih dengan gaya belajar masa SMA. aku bisa dengan mudah beradaptasi, membagi waktu antara kuliah dan organisasi, dan tidak perlu bersusah payah utk dapat IP bagus (mungkin kalau kuliahnya di UGM bakal lain cerita kali yee ;P) itu jg yg kulihat dr alumni2 smansa yg tercatat sebagai aktivis dikampusku. I'm so proud of them :D
itulah mengapa, aku hampir selalu meluangkan sedikit waktu utk berkunjung ke gedung tua itu. entah hanya sekedar numpang sholat dzuhur, ketemu guru2, nongkrong di kantin, nonton anak2 yg sedang eskul basket, datang ke acara rohis, atau sekedar mampir dihari libur.. keliling ke seluruh isi sekolah sambil nostalgia..haha..how romantic XD
that's what I call SMANSA KLAN. I have it in my blood, and I'm so proud of it :D
one day, when I have children, I hope they'll make it to this school and proudly say "my mom was also here years ago"
hehehe... sambil senyum2 kubilang "ini sertifikat, biasanya cm anak smansa yg punya. soale jarang2 ada siswa SMA lain yg ikut"
"lah terus Mbak tau darimana?" tanya nya lagi
akhwat yg duduk disebelahku langsung menjawab "Mbak nya ini alumni SMansa"
"oooooooo..." anak tadi cuma manggut-manggut, wajahnya masih terdapat gurat2 keheranan. segitu ma'rifatnya ya sama mantan sekolah. mungkin begitu pikirnya.
that's what I call SMANSA KLAN. I have it in my blood, and I'm so proud of it :D
7 tahun setelah lulus dr gedung tua dijalan Bhayangkara itu, aku masih merasakan sense of belonging yg luar biasa. waktu final DBL thn lalu, aku nyaris datang sendirian ke stadion dengan kostum merah kalau gak ingat umur dan kalau gak ingat disana bakal campur aduk dengan kaum pria..^^v
aku hampir selalu bisa mengenali siswa-siswa smansa saat sedang berada didalam angkot, warung atau mall. i dont know why..dulu, waktu masih mengajar di IDP, aku pernah memegang kelas level SMA dan saat pertemuan perdana, secara spontan aku bertanya pada mereka "kalian anak Smansa ya??" dan benar saja. cm 1 orang yg ada dalam ruangan itu yang bukan siswa smansa, dia masih kelas 2 SMP dan berkata "tp nanti saya bakal masuk smansa koq, Miss" :D
bukan tanpa alasan aku begitu mencintai almamaterku itu, masuk kesana sebagai anak lulusan SMP kampung, aku merasa begitu diterima, tidak dibeda2kan dengan mereka yg statusnya anak pejabat, pengusaha, direktur , dsb. masih kuingat betul kata tetanggaku dikampung sebelum aku memutuskan utk mendaftar disekolah ini "eh, disana itu isinya cm anak2 orang kaya. ntar kamu gak punya teman lho" pada akhirnya aku tau kalau yang dikatakannya itu SALAH, ya..sekolah ini didominasi oleh anak2 borjuis. tidak punya teman?? salah besar, aku punya teman2 dan senior2 super keren yang tdk pernah membeda2kan manusia hanya dr status sosialnya (semoga ini masih berlaku sampai sekarang)
sekolah ini mengajarkan totalitas. kalau mau setengah2 mending ke tempat lain aja deh. percaya gak percaya, aku pernah dapat nilai 4 di raport. pelajaran kimia caturwulan pertama kelas 1. mungkin krn masih culture-shock. anak2 disekolah ini nafsu belajarnya mengerikan, gaya belajarku semasa SMP jelas tidak berguna. menginjak kelas 2, aku sadar 1 hal lagi. koq bahasa inggrisku jelek bgt ya?? dibanding teman2 sekelas yg rata2 bisa cas cis cus dengan lancar. akhirnya, kursus tambahan jd satu2nya pilihan. walaupun harus berjibaku dgn kelas malam krn sehari penuh sdh dihabiskan disekolah. sekolah dr jam 7 sampai jam 2, plus les trio matematika-fisika-kimia, eskul, dsb.sadar kalau otakku pas2an..jd gak punya waktu utk main2 ^^v kalau nilainya jelek ya tamat lah riwayat sampai disitu, tiap tahun ada aja siswa smansa yg pindah kesekolah lain krn tinggal kelas. makanya begitu menginjak dunia kampus, masih dengan gaya belajar masa SMA. aku bisa dengan mudah beradaptasi, membagi waktu antara kuliah dan organisasi, dan tidak perlu bersusah payah utk dapat IP bagus (mungkin kalau kuliahnya di UGM bakal lain cerita kali yee ;P) itu jg yg kulihat dr alumni2 smansa yg tercatat sebagai aktivis dikampusku. I'm so proud of them :D
itulah mengapa, aku hampir selalu meluangkan sedikit waktu utk berkunjung ke gedung tua itu. entah hanya sekedar numpang sholat dzuhur, ketemu guru2, nongkrong di kantin, nonton anak2 yg sedang eskul basket, datang ke acara rohis, atau sekedar mampir dihari libur.. keliling ke seluruh isi sekolah sambil nostalgia..haha..how romantic XD
that's what I call SMANSA KLAN. I have it in my blood, and I'm so proud of it :D
one day, when I have children, I hope they'll make it to this school and proudly say "my mom was also here years ago"
Senin, 05 Maret 2012
Sincere Marriage Advice
Some of those who are familiar with my YouTube channel may know this story already, but I’m going to tell it again because every time I think about it, I start laughing.
So, it was a few months before my marriage and I was working at a private Islamic school as a history teacher. School was just let out and the kids were heading back home. The teachers usually met in the teachers lounge to chill and talk about their day. We did just that. There was an Egyptian shiekh who taught Qur’an at the school. He was an older brother. He pulled me off to the side while we were chatting. I had a ton of respect for him and the knowledge he possessed.
He asked me, “I hear you are getting married?” I replied in the affirmative. He took me by the hand and led me to the school cafeteria. He said he wanted to give me some sincere advice. Of course, I went willingly.
He told me that the words he is about to relate to me are VERY important and I should take heed if I want a successful marriage. I was like, “He’s about to drop some knowledge on me!” Of course, I didn’t say that out loud, but I was sure thinking it. He told me that I have to remember that I am the man of the house. I was like, “Yes, shiekh”. He said, “You will be the protector and maintainer of your wife”. I was like, “Yes, shiekh”. I lowered my head in humility whilst reflecting upon the great responsibility about to come my way.
He told me that I have to remember that I have the final say in the home because I am the man. I was like, “Yes, shiekh”. He then asked me a question. He said, “and do you know what that final say is?” I was like, “What shiekh?” He said, “YES, MA’AM”. Last thing I remember seeing, was an old man with a big grey beard laughing at me. I was like, “I just got punked by an 70 year old Egyptian shiekh!” Needless to say, his advice was crystal, and it still works like a charm – if charms were halal. =)
-- copied from brother Nader's blog --
So, it was a few months before my marriage and I was working at a private Islamic school as a history teacher. School was just let out and the kids were heading back home. The teachers usually met in the teachers lounge to chill and talk about their day. We did just that. There was an Egyptian shiekh who taught Qur’an at the school. He was an older brother. He pulled me off to the side while we were chatting. I had a ton of respect for him and the knowledge he possessed.
He asked me, “I hear you are getting married?” I replied in the affirmative. He took me by the hand and led me to the school cafeteria. He said he wanted to give me some sincere advice. Of course, I went willingly.
He told me that the words he is about to relate to me are VERY important and I should take heed if I want a successful marriage. I was like, “He’s about to drop some knowledge on me!” Of course, I didn’t say that out loud, but I was sure thinking it. He told me that I have to remember that I am the man of the house. I was like, “Yes, shiekh”. He said, “You will be the protector and maintainer of your wife”. I was like, “Yes, shiekh”. I lowered my head in humility whilst reflecting upon the great responsibility about to come my way.
He told me that I have to remember that I have the final say in the home because I am the man. I was like, “Yes, shiekh”. He then asked me a question. He said, “and do you know what that final say is?” I was like, “What shiekh?” He said, “YES, MA’AM”. Last thing I remember seeing, was an old man with a big grey beard laughing at me. I was like, “I just got punked by an 70 year old Egyptian shiekh!” Needless to say, his advice was crystal, and it still works like a charm – if charms were halal. =)
-- copied from brother Nader's blog --
Langganan:
Postingan (Atom)
